Life is like a book. Everyday has a new page, with adventures to tell, lessons to learn, and tales on good deeds to remember. Have a good episode today!

Blog EntryGo! Go! Little Artists!May 19, '08 12:13 AM
for everyone
Kemarin saya lagi-lagi jadi juri lomba mewarnai *mudah-mudahan nggak bosen dan orang nggak bosen sama sayah hehe*. Buat saya menilai hasil lomba menggambar lebih menarik daripada lomba mewarnai. Di situ saya bisa melihat cara berpikir, imajinasi dan kreativitas anak-anak yang kadang mengejutkan. Menarik! Selalu menarik.

Melihat hasil karya anak sekarang lebih entertaining daripada anak-anak masa lalu, termasuk saya. Meski dulu saya waktu SD suka menggambar barbie -dan suka menerima pesanan teman-teman dengan bayaran 50 rupiah per gambar, tetap saya beberapa kali menggambar rumah dengan satu pintu dan jendela menggunakan penggaris! Dosa menggambar dua gunung dengan matahari diapit oleh keduanya, tetap wajib hukumnya waktu itu. Hehehehe...

Selama beberapa kali pengalaman menjuri, saya sering tetap tidak puas. Meski hasil karya anak-anak jauuuuuuuhhh lebih berkembang dari masa saya dulu, tetap saja ada yang miss. Ada yang hilang. Mungkin rasa itu ikut dipicu oleh rasa kesal karena ikut ketiban dosa pendidikan masa lalu juga hehe. Yang sering muncul dalam pemenang adalah anak-anak yang saya identifikasi sebagai anak sanggar, maksudnya anak-anak yang ikut sanggar lukis.

Kenapa saya begitu mudahnya menilai? Karena identitas itu dengan mudahnya terlihat. Misalnya, anak sanggar diarahkan untuk membuat frame dengan crayon hitam, menggunakan crayon dengan jenis khusus yang warnanya lebih kinclong, ujung crayon runcing, warna terlihat mengilat di atas kertas, pembubuhan gradasi dan shadowing atau lighting. Memang pada akhirnya terlihat kinclong dan bagus.

Tapi... tetaaap.... saya belum menemukan originalitas. Semua begitu sama. Juara satu membuat gradasi silang-menyilang, juara 3 juga. Juara dua membuat goresan bulat-bulat yang sama dengan juara pertama. Juara dua menyemprot gambarnya dengan pilox untuk mendapatkan efek glossy, juara tiga juga melakukan hal yang sama. Semua membuat frame hitam yang sama! Ah...

Saya bisa maklum, karena tanpa diarahnya seperti itu oleh tutornya, toh anak-anak tidak akan mencapai kemajuan seperti sekarang ini. Bisa jadi tutor tidak hanya bermaksud meminta anak melakuakan A, tapi si anak ikut aja melakukan A. Ketika tutor tidak mencontohkan Z, anak tidak menemukan Z. Harus rapi, jangan keluar garis, kalau berantakan salah, itu tertanam dalam otak anak. Padahal Picasso dan Braque terkenal karena gaya lukisannya kubisme-nya yang keluar dianggap nyeleneh pada awal abad ke-20.

Eniwei... sementara ini saya masih berkesimpulan... kita blm bisa berlepas diri dari mendidik anak secara dogmatis. Mungkin karena anak pada dasarnya mudah meniru. Dan dengan keterbatasan cara berpikirnya, mereka belum bisa berpikir kritis dan mengembangkan, keluar dari batasan. Tidak ada salahnya tho, karena inilah nature-nya. Nah.. baiknya memang masa ini dimanfaatkan untuk menanamkan nilai2 penting kehidupan, untuk kemudian pelan-pelan --seiring berkembangnya cara berpikir mereka-- dijelaskan makna dan maksud yang terkandung di dalamnya.

Selain itu, bisa jadi ada alasan-alasan praktis orang dewasa untuk "mencetak" seorang seniman. Semoga semua menyadari bahwa anak tidak hadir untuk dicetak untuk menjadi sesuatu, tapi untuk disemai, dipupuk, disirami, dan dirawat setiap hari. Apapun jadinya anak itu nanti. Tapi saya tidak keberatan kok, bisa jadi anak itu sangat senang "dicetak". It's okay. Namanya juga usaha hehe.

Oke, Nak.... You're doing very well! Plok.. plok.. plok.. kamu hebaaat! *pinjem lagunya si Baby*. Semoga ketika volume otakmu membesar dan kau pandai mempertanyakan apa pun... hasil karyamu tidak akan ada yang menyamai, bahkan goresannya sekalipun.


36 CommentsChronological   Reverse   Threaded
harlia wrote on May 19
nah, itulah gw juga bingung Min..
pas ngajar kemaren.. klo gurunya nggak menggambar...
anak2nya diem..
tapi klo gurunya gambar..
anak2nya ngikutin gambar gurunya..
gimana dong? ^^;;
kelasajaib wrote on May 19
paling kapok kalo jd juri, trus ada peserta yg kalah, langsung marah2 sama jurinya ....
albirru wrote on May 19
harlia said
nah, itulah gw juga bingung Min..
pas ngajar kemaren.. klo gurunya nggak menggambar...
anak2nya diem..
tapi klo gurunya gambar..
anak2nya ngikutin gambar gurunya..
gimana dong? ^^;;
huahahaha.. yah.. namanya anak2 bu.. emang ngikut ajah kerjaannyah. Variasiin aja teknik yg dikasih tau... biar mereka tau banyak cara. Nanti kl dah gedean mereka mudah2an punya keberanian mencampur teknik sampe dapet teknik baru
albirru wrote on May 19
paling kapok kalo jd juri, trus ada peserta yg kalah, langsung marah2 sama jurinya ....
gw jg pernah be. ada ibu2 yg marah anaknya g menang karena di-diskualifikasi. anaknya yang malah narik2 ibunya utk brenti marah2. Yah... gitulah... keinginan utk "mencetak" anak terlalu tinggi. jangan2 obsesi pribadi tuh
tianarief wrote on May 19, edited on May 19
albirru said
gradasi dan shadowing atau lighting
nah, ini kemajuan anak-anak sekarang. (atau khusus "anak-anak sanggar"?)
soal "wajib" dua gunung itu, aku kira, pengalaman si anak semasa bayi, yang memang akrab dengan "itu". ;))
ianaja wrote on May 19
perasaan, aye wkt kecil jarang banget ngegambar pemandaan alam spt dua gunung mengapit matahari ntu, dah.
lebih sering gambar mobil, motor, ama roket. dan default point-nya 6
albirru wrote on May 19
nah, ini kemajuan anak-anak sekarang. (atau khusus "anak-anak sanggar"?)
soal "wajib" dua gunung itu, aku kira, pengalaman si anak semasa bayi, yang memang akrab dengan "itu". ;))
eeeeeee... om tiaaaaannnn.. awas yeee
albirru wrote on May 19
ianaja said
perasaan, aye wkt kecil jarang banget ngegambar pemandaan alam spt dua gunung mengapit matahari ntu, dah.
lebih sering gambar mobil, motor, ama roket. dan default point-nya 6
yahahahahahahaha
worotarie wrote on May 19
klo eke dulu waktu SD sering banget gambar pemandangan... tapi ga selalu gunung... gambar sungai juga seruuu....

worotarie wrote on May 19
btw, klo diperhatikan, gambar para pemenangnya jg ga lepas dari gambar gunung...
tianarief wrote on May 19
albirru said
eeeeeee... om tiaaaaannnn.. awas yeee
hihihi. *jadi inget salah satu ilustrasi bukunya* :))
bulatpenuh wrote on May 19
kan pembeajaran pertama dari meniru... setelah dia siap, dia akan mengembangkan gaya baru yang lebih cocok dengan dirinya. Mungkin kalau diperkenalkan pada macam2 media akan lebih variatif hasil karyanya. Pendapatku anak jangan diburu-buru dengan cara dicetak ataupun diberikan pilihan... sama sih ama pendapat mbak.

albirru wrote on May 19
btw, klo diperhatikan, gambar para pemenangnya jg ga lepas dari gambar gunung...
mungkin karena objek gunung itu lebih indah daripada wajah dikau mpok hihihi
yudimuslim wrote on May 19
lulusan sastra tapi malah jadi "tukang gambar"
keuren..:D
sya2 wrote on May 19
mbak mimin, gimana sih crnya ngajarin anak suka nggambar? anakku (3,5) kok gak seneng nggambar ya? mungkin nngak nurun dari ayah-ibunya yg emang dua2nya jg gak bisa nggambar :D
wehaz wrote on May 19
vian gak pernah bisa mengikuti lomba gambar atau mewarnai. sejak kecil tidak pernah trampil menggunakan crayon atau pinsil warna, karena yg digambarnya selalu ilustrasi detail hitam putih. Tapi kalau menggambar seperti itu dia bisa detail sekali sampai hal-hal rumitnya digambar juga.
maimon wrote on May 19
albirru said
eeeeeee... om tiaaaaannnn.. awas yeee
hi hi hi, lama mikir....baru nyadar!

*Sekarang anak botol ya?
Tapi kan balik lagi ke ide lama. Slogan maternity ward 'breast is best'
brotherihda wrote on May 19
mantep nih.. :D
albirru wrote on May 19
maimon said
*Sekarang anak botol ya?
Tapi kan balik lagi ke ide lama. Slogan maternity ward 'breast is best'
halah.. halah... jadi ke sini sih un... hehehe.... jadi kl anak botol tidak menggambar gunung, anak asi gambarnya gunung.. huehehehe uni... uni...
albirru wrote on May 19
sya2 said
mbak mimin, gimana sih crnya ngajarin anak suka nggambar? anakku (3,5) kok gak seneng nggambar ya? mungkin nngak nurun dari ayah-ibunya yg emang dua2nya jg gak bisa nggambar :D
ngasih kesempatan dan fasilitas cukup utk dia eksplorasi aja sya. kl memang berbakat nanti terasah kok karena biasanya bakat kl dah ketemu minat yg diberi tempat, ibarat ikan ditaro di air, bisa berenang ke mana2 tuh seluasnya air
albirru wrote on May 19
lulusan sastra tapi malah jadi "tukang gambar"
keuren..:D
baru keingetan lg kl suka gambar pas dah lulus kuliah dan kerja 4 taun hehehe
albirru wrote on May 19
kan pembeajaran pertama dari meniru... setelah dia siap, dia akan mengembangkan gaya baru yang lebih cocok dengan dirinya. Mungkin kalau diperkenalkan pada macam2 media akan lebih variatif hasil karyanya. Pendapatku anak jangan diburu-buru dengan cara dicetak ataupun diberikan pilihan... sama sih ama pendapat mbak.

yupie.. seperti yg kubilang sama harley. masa anak2 masa doktrinasi hehehehe.. sini lo mal gw doktrin
albirru wrote on May 19
wehaz said
vian gak pernah bisa mengikuti lomba gambar atau mewarnai. sejak kecil tidak pernah trampil menggunakan crayon atau pinsil warna, karena yg digambarnya selalu ilustrasi detail hitam putih. Tapi kalau menggambar seperti itu dia bisa detail sekali sampai hal-hal rumitnya digambar juga.
ilustrasi hitam putih seperti komik, mbak wanda? mungkin dia lebih suka menggambar komik. Seniman komik banyak menyampaikan kritik dengan cara yang mengejutkan dan lucu lho
albirru wrote on May 19
mantep nih.. :D
apanya? kacamata itemnya?
bulatpenuh wrote on May 19
gw lo doktrin silakan, nanti balasnya gw ajarin ngasah tanduk hehehehehehe
tentangkami wrote on May 19
hmmm beda deh kl udah kranjingan ama gambar mah hihiii, nyerah aku min, gambar duwa gunung rtengahnya ada matahari aja aku gak pernah sukses hahaahah
albirru wrote on May 20
bukan keranjingan ama gambarnya sih da.... tapi ama duitnya.. huehehehe... *susahnya cari nafkah hihihi*
worotarie wrote on May 20
nanti balasnya gw ajarin ngasah tanduk hehehehehehe
ga usah ama elo deh mal... di sini juga banyak yg jago nanduk... dah nambah anggota lagi. top kan?

*merasatersaingidotcom*
worotarie wrote on May 20
albirru said
mungkin karena objek gunung itu lebih indah daripada wajah dikau mpok hihihi
awasssss yeeeeeeeee..... gw tanduk loooh!
nisanajma wrote on May 22
yah begitulah Min..gue guru aja suka geregetan ama kurikulum...
btw...minta gambarin bayarannya 50 perak masih kan...gue minta gambarin 100 gambar yak..gue bayar cash!! he he he...
arynsis wrote on Jun 2
jadi inget jadi juri lomba anak nulis opini...(kebetulan bareng lomba nggambar juga), aku malah bingung. ini anak apa orangtuanya yang ikutan ...para ibu itu begitu semangatnya ngasih petunjuk ke anak...ampun deh.
albirru wrote on Jun 2
yah begitulah Min..gue guru aja suka geregetan ama kurikulum...
btw...minta gambarin bayarannya 50 perak masih kan...gue minta gambarin 100 gambar yak..gue bayar cash!! he he he...
kurikulum itu cuma kejar setoran ye hen...

iya masih 50 perak... tapi sekarang bayarnya pake dolar bu hehe.. 50 dolar kali 100.. hmm.. mayan dahhhh
albirru wrote on Jun 2
arynsis said
jadi inget jadi juri lomba anak nulis opini...(kebetulan bareng lomba nggambar juga), aku malah bingung. ini anak apa orangtuanya yang ikutan ...para ibu itu begitu semangatnya ngasih petunjuk ke anak...ampun deh.
huehehehhe... nah tu die yg bikin aku suka males jadi juri... yg pada napsu emaknya hihi... mending ngajar kelas ngegambar bebas kali yaa
harlia wrote on Jun 2
albirru said
yg pada napsu emaknya hihi...
blom lagi klo yang sampe nyolot kalo anaknya nggak menang, ya?
^_^;;
albirru wrote on Jun 2
harlia said
blom lagi klo yang sampe nyolot kalo anaknya nggak menang, ya?
^_^;;
nyebelin bangettt.. pernah tuh kejadian ma gw har. heran ajah ma ortu kek gitu
nitacandra wrote on Jun 3
iya ya mbak..
keknya anak2 dari sanggar kok gambarnya seragam semua ya?:-).
Jadi 'takut' masukin anak saya ke sanggar, walopun dia sukaaa banget gambar, tp beda 'aliran' ama sanggar yg khas banget model 'gradasi'nya itu hihi..lha anak saya hobi bikin sket-yg detil, n gak betah ngewarnai...hehe..ntar originalitas dia malah ilang
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help