Lelaki itu tercenung menatapi tumpukan majalah Tempo tempo dulu. Kertasnya telah menguning dan ditembusi kutu buku di sana sini. Ada rasa tidak rela merayapi ulu hatihnya ketika tumpukan majalah dan koran lama itu harus berakhir di tukang loak. Satu ruangan rumahnya ia khususkan untuk menyimpan koran dan majalah bekas. Harapannya sederhana, majalah dan koran itu suatu saat dapat menjadi data dan saksi saat diperlukan. Namun memelihara arsip dan dokumentasi ternyata tidak sesederhana yang ia bayangkan. Perlu empat tahun kuliah untuk mendokumentasikan dengan baik manuskrip2 penting, kilah anaknya yang ketujuh. Gudang koran dan majalah itu kini harus beralih fungsi menjadi kos-kos, sebuah kepentingan mendesak untuk hidup sehari-hari.
Istri laki-laki tua itu adalah perempuan yang hanya membaca lembar buku berupa mushaf Al Qur'an dan wirid, tidak lebih tidak kurang. Sehingga tidak terlihat dalam imajinya sebagaimana imaji suaminya; buku adalah tumpukan harta tak ternilai. Sehingga lelaki itu hanya membisu menata hatinya yang tercabik kala buku-buku "disimpan" dalam kardus karena lemari mulai tidak mencukupi, dan koran-koran serta majalah dilego ke tukang loak. Anak-anak pun hanya membaca dua set buku sari Time Life versi bahasa Indonesia, karena waktu itu belum banyak ensiklopedi yang diterjemahkan. Beberapa set ensiklopedi lainnya tidak tersentuh karena berbahasa Inggris. Anak-anaknya masih kecil sementara ia sendiri tak begitu pandai bahasa inggris. Suatu saat pasti bermanfaat, kilahnya.
Paling tidak hatinya terobati melihat hartanya masih tersimpan baik dalam lemari. Berlemari-lemari. Terlebih lagi saat anak ketujuhnya itu kuliah jurusan Sastra --yang dialergikan oleh sembilan saudara-eksakta-nya yang lain-- buku-buku mulai sering keluar masuk rak. Ensiklopedi-ensiklopedi. Mulai ensiklopedi Islam hingga Britanica. Lelaki itu mulai tersenyum. Awalnya lelaki tua itu sering protes karena koleksi ensiklopedi-nya tidak lengkap akibat praktek penculikan dari anak yang ketujuhnya itu. Tetapi ketika tahu bahwa anak yang dulu ketika sekolah tidak pernah juara kelas itu juga menulis buku, ia melunak.
"Hanya buku ini yang bisa aku wariskan pada kalian," ujarnya pada anak ketujuhnya yang sedang memilih-milih buku mana yang bisa ia culik untuk bahan menulis buku.
"Dengan senang hati!" kejar anak ketujuh tak tahu malu itu sambil ngiler.
Lelaki itu sedang menghabiskan masa tuanya. Anak ketujuhnya mulai memasang komitmen untuk lebih sering mengunjunginya, menunjukkan hasil karyanya, menghibur hatinya, memasakkan makanan kesukaannya. Untuk mengatakan pada ayahnya bahwa lelaki itu adalah ayah yang baik dan berhasil mendidik anak yang baik. Meski anak ketujuhnya itu masih belum bisa menyaingi rekor membaca ayahnya.**
 | Ini kisah ayah Mbak Mimin ya? |
 | anak ke 7 tdk pernah juara kelas??? |
 | jadi inget ayah.....makasih,mbak Mimin... |
 | saya setuju sama anak ketujuh |
 | Smg Ayah mba Mimin sehat2 slalu.. :) |
 | Enaknya dapat warisan buku... |
 | ensiklopedi britannica ??? hmm......dengan senang hati aku tampung dech...:-), btw anak ketujuhnya dapet warisan buku apa aja nih...., ngiler juga jadinya..., eh,..iya aku dari eksakta tapi gak alergi loh....sama buku2 itu :-) |
 | ada ajang bagi2 buku gak, say? *mbak mo ikutan kalo ada* :) |
 | albirru wrote on Jun 18, edited on Jun 18 eh,..iya aku dari eksakta tapi gak alergi loh....sama buku2 itu :-)  alerginya ama jurusan sastra mbak yenny. maklum jaman dulu jurusan non eksakta dipandang sebelah mata. kagak keren gitu logh hehe |
 | buku2 itu kan warisan mbak.. warisan kl orangnya masih nggak ada bagi2 dah adanya pinjem2 hehe |
 | aku pun mendapat contoh 'kutu buku' dari ayahku...warisan terbesar ayahku adalah ilmu memaknai hidup dan kehidupan setelah mati. dari beliaulah aku mendapat cermin pembelajar paling hebat. makanya aku hadirkan karyaku khusus untuk beliau dengan judul "AYAHKU PAHLAWANKU"...semoga Allah melapangkan kuburnya dan mengampuni segala dosanya...walau aku pun tak menafikan kehebatan ibuku yang darinya aku mendapat cermin kesabaran, kepatuhan dan kerja keras... |
 | dasar anak ketujuh tuh ya..suka "menculik" apapun dan dimanapun :D
|
Comment deleted at the request of the author.
 | "kakak ketujuh..kakak ketujuh..."*film kungfu mode on*
Btw...ternyata kita sama..mendapat warisan kutu buku dari ayah..ah..aku jadi kangen ayah..salam buat ayah ya say... |
 | albirru wrote on Jun 18, edited on Jun 18 "kakak ketujuh..kakak ketujuh..."*film kungfu mode on*
Btw...ternyata kita sama..mendapat warisan kutu buku dari ayah..ah..aku jadi kangen ayah..salam buat ayah ya say...  ah tidak... aku bukan kutu buku, bibi kesepuluh.... salam juga untuk kakek pertama yaa hihihi |
 | mpo.... majalah tempo tempo dulunya masih ada kan? bikin perpus aja.... majalah tempo doeloe bagus banget buat dokumentasi tuh... banyak yang cari jangan2...
ayo mpooo.... berkarya lagiii..... Semangaaat!!! Sudah banyak bekalnya tuh di rumah bapak... kalaw bapakku sukanya ngumpulin alat elektronik usang.... ampe kesindir waktu nonton Oprah yang edisi Hoarder... :\ |
 | pindahin aja semua buku itu ke rumah lo. bikin perpus! setuju deh ama mamal. ntar gw jadi pelanggan setia deh asal gratis! huehehe.... |
 | berarti no take home library.... Itu majalah2 tempo harus pakai ijin khusus kalaw maw baca. soalnya arsip penting.... |
 | ah Mimin, bukannya dulu juara kelas waktu kelas 3 BAHASA di SMA 3 ^-^ |
 | kira-kira, anak kita satu ketika nanti akan nulis apa ya tentang kita?
*pengen ketemu Ayaah...*
|
 | itu cita2 yudi mbak.. buku2 sekarang ini menjadi harta yang mahal..suka nangis klo ada buku2 yudi yang dipinjem terus rusak dan hilang..:( |
Comment deleted at the request of the author.
| |